Sunday, July 31, 2011

AKu HanyA BiSa MaNcINtai

Titik cahaya yang memancar di sela kegundahannya
Terasa hangat disaat keputusasaan ini
Tabir kegelapan segera sirna
Dikala sang pencinta kembali menoreh kisah

Ia belum tahu dimana dimulai
Namun masa terus bergulir
Mengukir kisah tiada akhir
Berhentilah sejenak tuk berbagi

Sang pencintapun ingin kembali di kenang
Segala yang tercipta berganti cerita
Karena masa kian berubah
Tiada lagi kisah teriring cinta

Masih kuatkah sang pencinta..?
Mampukan merubah khayal menjadi nyata..”?
Biarkanlah Ia terus berjalan
Menyelusuri gundah yang kian sirna…

Apa CintaMu Sepenuhnya Untukku

Sentuhan cinta menghapus sebagian keheningan hati
Tatkala cinta menyentuh sepi
Meski hati tak nyakin
Apa cintamu sepenuhnya untukku ???

Kini kala tali ikatan suci kau tawarkan padaku
Bak suara petir yang menggelegar
Menyengat seluruh ragaku

Ku takut kala ku tlah jauh melangkah
Cinta itu semu
Apa yang kau beri slama ini hanyalah suatu kehampaan
Aku takut cinta ini ‘kan menyayat hatiku lagi

Biarkan waktu berjalan apa adanya
Agar ku mengerti semua tentang dirimu
Agar ku nyakin cintamu sepenuhnya untukku
Hanya untukku

Kala cinta dan kasih sayangmu sepenuhnya untukku
Dengan bahagia, ku terima pinanganmu

Seseorang Yang Pernah Kucintai

karamnya cinta ini
tenggelamkanku di duka yang terdalam
hampa hati terasa
kau tinggalkanku meski ku tak rela
salahkah diriku hingga saat ini
ku masih mengharap kau tuk kembali

mungkin suatu saat nanti
kau temukan bahagia meski tak bersamaku
bila nanti kau tak kembali
kenanglah aku sepanjang hidupmu

mungkin suatu saat nanti
kau temukan bahagia meski tak bersamaku
bila nanti kau tak kembali
kenanglah aku sepanjang hidupmu

Ini kupersembahkan untuk seseorang yg pernah ada di dlm hatiku, . . . .tapi kini dy udah pergi utk slamnya dan tk akn mngkin bisa lgey tuk bisa kumiliki, . . .

smoga kau bhagi dsna bersmanya, . . . jalinlah khidupan baru bersamanya, . . .smoga mnjdi keluarga yg sakinah, . . .

Aku Hanya Seorang Pecundang Yang Tak Ada Artinya

telah banyak teori ku buat, .
telah banyak strategi ku rancang, .
ternyata praktek tak semudah teori, .
strategi tak berjala sesuai ku rancang, .

kalimat itu begitu sulit terucap, .
lidah seakan kaku, .
mulut seakan terkunci, .

didepan kelas beribu kalimat, .
lancar terlontarkan, .
tapi satu kalimat itu untuk dia, .
tak mampu terucap, .

satu kalimat ituuntuk dia,.
hanya bersemayam didalam hati, .
begitu sulit lidah ini mengucap aku cinta kau, .
aku sayang padamu, . .

ya....
ternyata aku pecundang, .
hanya mampu berteori ria, .
tapi tak mampu praktek, .

untukmu sahabatku

Sahabatku…
seberat apapun masalahmu
sekelam apapun beban hidupmu
jangan pernah berlari darinya
ataupun bersembunyi
agar kau tak akan bertemu dengannya
atau agar kau bisa menghindar darinya

karena sahabat…
seberapa jauhpun kau berlari
dan sedalam apapun kau bersembunyi
dia pasti akan menemuimu..
dalam sebuah episode kehidupanmu

sahabatku…
hadapi ia dengan senyum seterang mentari pagi
ajak ia untuk menikmati hangatnya teh kesabaran
ditambah sedikit penganan keteguhan

sahabat…
dengan begitu
kau akan dapati
dirimu menjadi sosok yang tegar
dalam semua keadaan…
dan kau pun akan mampu dan lebih berani
untuk melewati lagi deraan kehidupan

dan yakinlah sahabat…
kaupun akan semakin bisa bertahan
kala badai cobaan itu menghantam..

SEMANGAT!!!! Langjutkan…

Monday, July 4, 2011

pesan KH.ahmad dahlan

 Tulisan di Papan Tulis Dekat Tempat Tidur KH. Ahmad Dahlan


Tulisan ditulis dengan berbahasa arab yang artinya:

Hai Dahlan, sungguh di depanmu pasti kau lihat perkara yang lebih besar dan mematikan, mungkin engkau selamat atau sebaliknya akan tewas.
Hai Dahlan, bayangkan kau sedang berada di dunia ini sedirian beserta Allah dan dimukamu ada kematian, pengadilan amal, surga, dan neraka. Coba kau piker, mana yang paling mendekati dirimu selain kematian. Mereka yang menyukai dunia bisa memperoleh dunia walaupun tanpa sekolah. Sementara yang sekolah dengan sungguh-sungguh karena mencintai akhirat ternyata tidak pernah naik kelas. Gambaran ini melukiskan orang-orang yang celaka di dunia dan akhirat sebagai akibat dari tidak bisa mengekang hawa-nafsunya. Apakah kau tidak bisa melihat orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu?”


Sumber:
Mulkhan, Munir, Prof. Dr. SU. 2007. Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan dalam Hikmah Muhammadiyah. Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.

KH. Ahmad Dahlan: Semangat Ber-Muhammadiyah

KH. Ahmad Dahlan Berkata:
“Mengapa engkau begitu bersemangat saat mendirikan rumahmu agar cepat selesai, sedangkan gedung untuk keperluan persyarikatan Muhammadiyah tidak engkau perhatikan dan tidak segera diselesaikan?”

Sumber:
Mulkhan, Munir, Prof. Dr. SU. 2007. Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan dalam Hikmah Muhammadiyah. Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.
Nasehat KH. Ahmad Dahlan: Kewajiban Setiap Manusia

Aku ini sudah tua, berusia lanjut, kekuatanku pun sudah sangat terbatas. Tapi, aku tetap memaksakan diri memenuhi kewajibanku beramal, bekerja, dan berjuang untuk menegakkan dan menjunjung tinggi perintah tuhan. Aku sangat yakin seyakin-yakinnya bahwa memperbaiki urusan yang terlanjur salah dan disalahgunakan atau diselewengkan adalah merupakan kewajiban setiap manusia, terutama kewajiban umat Islam.”

Sumber:
Mulkhan, Munir, Prof. Dr. SU. 2007. Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan dalam Hikmah Muhammadiyah. Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.

KH. Ahmad Dahlan: Muhammadiyah Untuk Semua

Menjaga dan memelihara Muhammadiyah bukanlah suatu perkara yang mudah. Karena itu aku senantiasa berdoa setiap saat hingga saat-saat terakhir aku akan menghadap kepada Illahi Rabbi. Aku juga berdoa berkat dan keridlaan serta limpahan rahmat karunia Illahi agar Muhammadiyah tetap maju dan bisa memberikan manfaat bagi seluruh ummat manusia sepanjang sejarah dari zaman ke zaman.”

Sumber:
Mulkhan, Munir, Prof. Dr. SU. 2007. Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan dalam Hikmah Muhammadiyah. Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.


KH. Ahmad Dahlan: Teruslah Menuntut Ilmu Pengetahuan & Kembali Kepada Muhammadiyah

“Muhammadiyah pada masa sekarang ini berbeda dengan Muhammadiyah pada masa mendatang. Karena itu hendaklah warga muda-mudi Muhammadiyah hendaklah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan (dan teknologi) di mana dank e mana saja. Menjadilah dokter sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan (propesional) lalu kembalilah kepada Muhammadiyah sesudah itu.”

Sumber:
Mulkhan, Munir, Prof. Dr. SU. 2007. Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan dalam Hikmah Muhammadiyah. Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.

KH. Ahmad Dahlan: Kutitipkan Muhammadiyah

KH. Ahmad Dahlan berkata:
Mengingat keadaan tubuhku kiranya aku tidak lama lagi akan meninggalkan anak-anakku semua sedangkan aku tidak memiliki harta benda yang bisa kutinggalkan kepadamu. Aku hanya memiliki Muhammadiyah yang akan kuwariskan kepadamu sekalian.”

“Karena itu, aku titipkan Muhammadiyah ini kepadamu sekalian dengan penuh harapan agar engkau sekalian mau memelihara dan menjaga Muhammadiyah itu dengan sepenuh hati agar Muhammadiyah bisa terus berkembang selamanya.”

Sumber:
Mulkhan, Munir, Prof. Dr. SU. 2007. Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan dalam Hikmah Muhammadiyah. Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.

KH. Ahmad Dahlan: Kuberi Nama Muhammadiyah

“Usaha berjuang dan beramal tersebut aku lakukan dengan mendirikan persyarikatan yang aku beri nama Muhammadiyah. Dengan itu aku berharap kepada seluruh umat yang berjiwa Islam akan selalu tetap mencintai junjungan Nabi Muhammad dengan mengamalkan segala tuntunan dan perintahnya.”

Sumber:
Mulkhan, Munir, Prof. Dr. SU. 2007. Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan dalam Hikmah Muhammadiyah. Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.

Khittah KH. Ahmad Dahlan

  1. Tidak Menduakan Muhammadiyah dengan organisasi lain;
  2. tidak dendam, tidak marah, dan tidak sakit hati jika dicela dan dikritik;
  3. tidak sombang dan tidak berbesar hati jika menerima pujian;
  4. tidak jubria (ujub, kikir, dan ria);
  5. Mengorbankan harta benda, pikiran, dan tenaga dengan hati ikhlas dan murni;
  6. bersungguh hati terhadap pendirian.

Sumber:
Mulkhan, Munir, Prof. Dr. SU. 2007. Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan dalam Hikmah Muhammadiyah. Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.

Kemunduran Ummat Menurut KH. Ahmad Dahlan

Menurut pendapat KH. Ahmad Dahlan, kemunduran umat Islam karena sebagian besar umat Islam terlalu jauh meninggalkan ajaran Islam. Selain itu disebabkan pula oleh kemerosotan akhlak sehingga penuh ketakutan seperti kambing dan tidak lagi memiliki keberanian seperti harimau. KH. Ahmad Dahlan berkata:
Karena itu, aku terus memperbanyak amal dan berjuang bersama anak-anakku sekalian untuk menegakkan akhlak dan moral yang sudah bengkok. Kusadari bahwa menegakkan akhlak dan moral serta berbagai persoalan Islam yang sudah bengkok memang merupakan tugas berat dan sulit.”

Lalu beliau melanjutkan:
Namun demikian, jika kita terus bekerta dengan rajin disertai kesungguhan, kemauan keras, dan kesadaran tugas yang tinggi, maka insya Allah tuhan akan memberi jalan dan pertolongan-Nya akan segera tiba.”

Sumber:
Mulkhan, Munir, Prof. Dr. SU. 2007. Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan dalam Hikmah Muhammadiyah. Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.
 
KH. Ahmad Dahlan: Jangan Tergesa-gesa Menyanggupi Suatu Tugas

KH. Ahmad Dahlan berkata:
Hendaklah setiap warga Muhammadiyah jangan tergesa-gesa menyanggupi suatu tugas yang ditetapkan oleh sidang persyarikatan. Telitilah terlebih dahulu keputusan siding yang menetapkan engkau untuk melakukan suatu tugas apakah pemenuhan tugas itu bersamaan dengan tugas yang telah engkau sanggupi sebelumnya. Jika itu terjadi, hendaklah kau permudah memenuhi tugas dalam waktu yang tidak bersamaan dengan tugas lainnya, agar engkau tidak mudah mempermainkan keputusan sidang dengan hanya mengirimkan surat atau memberi tahu ketika mendapati waktu pemenuhan tugas itu bersamaan dengan tugas lainnya yang telah engkau snggupi sebelumnya.”

Sumber:
Mulkhan, Munir, Prof. Dr. SU. 2007. Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan dalam Hikmah Muhammadiyah. Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.
 
KH. Ahmad Dahlan: Jangan Gampang Memperebutkan Tanah

KH. Ahmad Dahlan Berkata:
“Hendaklah engkau tidak gampang melibatkan diri dalam perebutan tanah sehingga bertengkar dan berselisih, apalagi bertengkar dan berselisih di muka pengadilan. Jika itu engkau lakukan, maka Allah akan menjauhkanmu memperoleh rejeki dari tuhan.”

Sumber:
Mulkhan, Munir, Prof. Dr. SU. 2007. Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan dalam Hikmah Muhammadiyah. Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.

KH. Ahmad Dahlan: Dokter Untuk Kaum Perempuan

Suatu ketika, KH. Ahmad Dahlan bertanya kepada anak-anak muda perempuan Muhammadiyah, “Apakah kamu tidak malu jika auratmu dilihat kaum lelaki?” Anak-anak muda perempuan itu serentak menjawab bahwa mereka akan malu sekali jika hal itu terjadi. Kiai lalu berkata: “jika kau malu, mengapa jika kau sakit lalu pergi ke dokter laki-laki, apalagi ketika hendak melahirkan anak. Jika kau memang benar-benar malu, hendaknya kau terus belajar dan belajar dan jadilah dokter sehingga akan ada dokter perempuan untuk kaum perempuan!”

Sumber:
Mulkhan, Munir, Prof. Dr. SU. 2007. Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan dalam Hikmah Muhammadiyah. Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.

KH. Ahmad Dahlan: Anak Muda Muhammadiyah akan Tersebar Ke Seluruh Dunia

KH. Ahmad Dahlan Berkata:
“Di masa yang akan datang, anak-anak warga Muhammadiyah tidak hanya akan tersebar di seantero tanah air, tapi akan tersebar ke seluruh dunia. Penyebaran anak-anak muda Muhammadiyah tersebut juga bukan semata-mata karena tugas keilmuan, melainkan juga akibat hubungan perkawinan.”

Sumber:
Mulkhan, Munir, Prof. Dr. SU. 2007. Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan dalam Hikmah Muhammadiyah. Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.

KH. Ahmad Dahlan: Alasan Tidak Memenuhi Tugas

25 November 2008 pukul 16:48 | Ditulis dalam Nasehat & Wasiat KH. Ahmad Dahlan | Tinggalkan komentar
KH. Ahmad Dahlan: Alasan Tidak Memenuhi Tugas

KH. Ahmad Dahlan berkata:
Jika engkau meminta izin tidak melakukan suatu pekerjaan yang telah ditetapkan oleh suatu keputusan sidang persyarikatan seperti untuk bertabligh, janganlah engkau meminta izin kepadaku, tapi memintalah izin kepada Tuhan dengan mengemukakan alasan-alasan. Beranikah engkau mempertanggungjawabkan tindakanmu itu kepada-Nya?”

Jika engkau meminta izin tidak memenuhi tugas tersebut karena alasan tidak mampu, maka beruntunglah engkau! Aku akan mengajarkan kepadamu bagaimana memenuhi tugas tersebut. Tapi, jika engkau meminta izin tidak memenuhi tugas tersebut hanya karena sekedar enggan, maka tiadalah orang yang bisa mengatasi seseorang yang memang tidak mau memenuhi tugas. Janganlah persoalan rumah tangga dijadikan halangan memenuhi tugas kemasyarakatan!”

Sumber:
Mulkhan, Munir, Prof. Dr. SU. 2007. Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan dalam Hikmah Muhammadiyah. Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.

Saturday, June 11, 2011

Dialog Agama, Pluralitas Budaya dan Visi Perdamaian

 
BELAKANGAN ini dialog antar-agama (baca; dialog antar-cendekiawan agama) mulai semarak kembali, baik dalam forum-forum diskusi/seminar maupun di berbagai media massa. Tema yang diangkat dalam dialog-dialog itu tidak lagi berkutat pada masalah-masalah teologis-dogmatis, akan tetapi berkaitan dengan masalah pembangunan, kemiskinan, keterbelakangan yang sedang menjadi masalah serius umat manusia sekarang ini.
Diakui atau tidak, sekarang ini kita hidup dalam masa globalisasi yang luar biasa, di mana sistem internasional negara-negara bangsa, ekonomi dunia serta makin kecilnya dunia berkat sistem komunikasi dan transportasi yang semakin canggih memberi makna kehidupan manusia ke arah yang lebih maju dan modern. Namun, di sisi lain globalisasi tidak jarang menimbulkan ketegangan/benturan yang sangat keras antar-peradaban. Masing-masing peradaban merasa perlu mendapatkan supremasi yang tertinggi dalam percaturan dunia. Inilah yang kemudian membuat proyeksi masa depan manusia menjadi terhambat.
Benturan budaya
Dialog agama pada dasarnya merupakan ikhtiar untuk melakukan proyeksi terhadap masa depan umat manusia. Dalam hal ini, dialog agama sudah barang tentu tidak bisa dilepaskan dengan perbincangan mengenai peradaban dunia. Sebab, peradaban dunia tidak lagi dipandang sebagai fenomena etnis dan antropologis belaka, melainkan dipandang sebagai bagian dari gejala politik, ekonomi, budaya serta agama.
Adalah tesis Samuel P. Huntington yang menyatakan bahwa dunia akan dibentuk sebagian besar oleh interaksi antara tujuh atau delapan peradaban besar, yakni peradaban Barat, Konfusius, Jepang, Islam, Hindu, Ortodoks Slavia, Amerika Latin, dan mungkin juga Afrika. Tesis itu semakin mempertegas bahwa ketegangan dunia (benturan peradaban) tidak lagi diilhami oleh polarisasi dualistik ideologi; Barat (Kapitalis) dan Timur (Komunis) seperti ketika terjadinya perang dingin. Ketegangan itu bukan pada batas-batas ideologis yang menjadi sumber konflik bagi pertarungan dan pertumpahan darah, akan tetapi akan terjadi sepanjang garis pemisah budaya (cultural fault lines) yang saling memisahkan peradaban-peradaban itu.
Beberapa ketegangan yang terjadi di India antara umat Islam dan Hindu, di Israel, umat Kristen di Irlandia Utara, Bosnia-Herzegovina dan Serbia, suku Aborigin dan warga Kulit Putih Australia, Pemerintah dan kaum Muslim di Moro Philipina, suku Kreol dan budaya Perancis di Amerika Latin, merupakan sebagian gambaran dari titik rawan yang memisahkan agama yang satu dengan agama yang lain, kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain.
Dengan demikian, benturan peradaban tampaknya menjadi sesuatu yang tidak terelakkan. Sebab diferensiasi antar-peradaban tidak hanya riil, tapi juga mendasar. Peradaban terdiferensiasi oleh sejarah, bahasa, budaya, tradisi, dan yang lebih penting lagi, agama. Selain itu, proses modernisasi ekonomi dan perubahan sosial dunia membuat orang atau masyarakat tercerabut dari identitas lokal mereka sehingga memperlemah peranan negara sebagai sumber identitas mereka.
Lebih spesifik Huntington menegaskan bahwa Barat menemukan seteru yang kemudian menjadi permanen, dengan adanya kolaborasi antara Islam dan Konfusianisme. Bentuk kerja sama antara Islam dan Konfusius dianggap paling menonjol dan telah bangkit menentang kepentingan, nilai-nilai, dan kekuatan Barat. Di tengah negara-negara Barat dan Rusia sedang mengurangi kekuatan militer mereka, negara-negara Timur Tengah (yang notabene Islam), Korea Utara, dan Cina justru mengembangkan kemampuan militernya.
Kesalahpahaman sejarah
Lebih dua tahun lalu, tesis itu -yang kemudian dianggap sebuah tuduhan bagi Islam dan Konfusianisme sebagai ancaman Barat- spontan menimbulkan reaksi keras di kalangan umat Islam. Tesis itu dianggap terlalu menyudutkan Islam dan Konfusianisme. Bahkan tidak sedikit Islamisis, Islamolog atau cendekiawan-cendekiawan Islam sendiri, baik yang fundamentalis maupun modernis melihat bahwa penghadapan Islam-Konfusius dan Barat itu merupakan ekspresi ketakutan-ketakutan Barat terhadap Timur.
Padahal kalau ditengok ke belakang, ketegangan itu merupakan akibat adanya kesalahpahaman (misscomunication) sejarah yang kemudian menimbulkan trauma sejarah yang cukup mendalam. Oleh karena itu dirasakan perlunya dialog yang serius antara keduanya, di mana batas-batas primordialisme budaya/peradaban semaksimal mungkin dapat dilampaui. Sebab, pluralitas budaya adalah sesuatu yang niscaya.
Perbedaan budaya bukanlah hal baru. Perbedaan tersebut sama tuanya dengan sejarah umat manusia. Dialektika sejarah umat manusia adalah gabungan antara sejarah perbenturan dan pertukaran antara budaya dan peradaban. Mustahil memahami suatu peradaban manusia manapun yang pernah ada dengan cara terisolasi, yaitu hanya mempertimbangkan keadaannya sendiri tanpa pengaruh budaya dari kelompok lain.
Menurut pandangan Bassam Tibi (Agama dan Dialog Antar Peradaban, 1996), kita perlu menyadari bahwa peradaban-peradaban mempunyai cara pandang dunia yang berbeda dan kemudian mencari model-model atau kerangka bagi kehidupan damai bersama. Dan suatu moralitas internasional hak asasi manusia yang didasari landasan lintas budaya memberikan harapan yang paling menjanjikan.
Hak asasi manusia tidaklah terbatas pada satu komunitas agama atau peradaban tertentu. Ia bersifat universal, dalam arti ia melampaui kepentingan peradaban tertentu atau kepentingan agama tertentu. Masing-masing pihak kiranya merasakan sebuah kebutuhan yang sama agar semua komunitas manusia bersedia bergabung dalam suatu moralitas lintas-agama dan membangun suatu konsensus mengenai hak asasi manusia itu.
Berangkat dari pemahaman tentang hak asasi manusia di atas, dialog antar-agama atau antar-peradaban hendaknya selalu berlandaskan pada rasionalitas dan moralitas internasional yang bersifat universal seperti demokrasi dan hak asasi manusia. Dari situ dialog agama diharapkan mampu menciptakan sekaligus membangun sebuah visi perdamaian dunia yang mempunyai jangkauan ke depan dengan mengembangkan pola budaya pluralistik baru yang lebih toleran. Kiranya format yang demikian itu bisa membawa peran baru bagi agama ke posisi yang sangat penting, di mana karakter universal setiap agama mampu memberikan kontribusi positif tentang bangunan nilai-nilai dan ekspresi budaya yang bisa dianggap sebagai milik semua orang, sehingga dapat menjadi contoh mengenai moral dan etika dalam interaksi antara satu sama lain.
Powered By Blogger

Total Pageviews

Followers