Saturday, November 26, 2011

AGAMA DAN ILMU


( Tulisan ini diambil dari tiga tulisan yang membahas tema "agama dan Ilmu" yang pertama ditulis New York Times Magazine 9 November 1930; yang kedua disampaikan pada princeton Theological Seminary, 19 Mei 1939; dan yang ketiga dimuat pada Science, Philosophi, and Religion: Sympisium yang diterbitkan pada 1941 oleh Comference on Scince, Philosophi, and Religion in Their Relation to The Democratic Way of Life Disini Sengaja diambil satu tulisan lengkap dan sebagian dari dua tulisan lainnya agar gagsan Einstain terungkap secara utuh, tetapi tidak ditumpang tindih diterjemahkan oleh Zainal Abidin dari Sonja Bargman (ed), Ideas and Opinions by Albert Einstein, Bonanza)

Selama abad yang lalu, dan sebagian abad sebelumnya, tersebar luas pendangan bahwa ada pertentangan yang tidak dapat didamaikan antara ilmu dan agama. Pandangan yang dianut oleh tokoh zaman itu adalah bahwa sudah saatnya iman digantikan oleh pengetahuan. Iman yang tidak bersandar pada pengetahuan adalah takhayul, dan karenanya harus ditolak. Menurut konsepsi ini, fungsi saru-satunya pendidikan adalah untuk membuka jalan kepada pemikiran dan manusia, haruslah memnuhi hanya tujuan itu saja.
Memang amat sulit kita temukan –kalaupun ada– sudut pandang rasionalistik yang diungkapkan dalam bentuk sekonyol itu; karena setiap orang yang dapat dengna mudah melihat betapa sepihaknya pernyataan itu. Tetapi kita perlu menyatakan suatu tesis secara tajam dan telanjang sama sekali, jika ingin mengetahui hakikat sejatinya.
Adalah benar bahwa keyakinan hanya dapar didukung dengan baik oleh pangalaman dan pikiran jernih. Pada titik ini, kita mesti bersepakat sepenuhnya dengan kaum rasionalis ekstrim. Bagaimanapun, titik lemah ini adalah bahwa keyakinan tersebut –yang amat penting dan menentukan perilakku dan penilaian kita–tak dapat ditemukan hanya pada wilayah ilmu yang ketat ini.
Ini disebabkan metode ilmiah tidak dapat mengajarkan apa pun tentang bagaimana fakta-fakra berhubungan, dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya. Pengahargaan kepada pengetahuan objektif harus diberikan kepada orang-orang dengan kemampuan tertinggi yang mengembangkannya, dan saya harap Anda tidak menuduh saya ingin mengecilkan pencapaian-pencapaian dan usaha-usaha heroik dari orang-orang yang bergiat di bidang ini. Namun, sama jelasnua adalah bahwa pengetahuan tentang apa yang sebenarnya tidaklah langsung membukakan pintu bagi apa yang seharusnya. Seseorang dapat memperoleh pengetahuan yang paling lengkap dasn paling jelas tentang apa sebenarnya, tetapi tidak mampu meyimpulkan darinya suatu tujuan dari aspirasi kemanusiaan kita. Pengetahuan objektif melengkapi kita dengan alat ampuh untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, tetapi tujuan puncak itu sendiri dan rasa rintu untuk mencapainya harus datang dari sumber lain. Dan hampir tidak perlu memperdebatkan pandangan bahwa kemaujudan dan aktivitas kita memperoleh makna hanya dengan penetapan tujuan seperti itu dan nilai-nilai yang berhubungan dengannya. Pengetahuan tentang kebenaran seperti apa adanya adalah menakjubkan, tetapi hanya sedikit perannya sebagai pembimbing, karena bahkan pengetahuan itu sendiri tak dapat mebuktikan konsepsi yang murni rasional dari kemajuan kita.
Tetapi kita juga tidak dapat mengasumsikan bahwa pemikiran akal tidak dapat berperan sama sekali dalam pembentukan tujuan dan penilaian etis . Ketika seseorang menyadari bahwa untuk mencapai suatu tujuan diperlukan suatu cara, di situ cara itu sendiri sudah menjadi tujuan. Meskipun demikian, berpikir semata tidak dapat suatu kepekaan atau rasa akan tujuan akhir. Bagi saya, inilah tampaknya peranan terpentung yang harus dimainkan oleh agama dalam kehidupan sosial manusia. Yaitu, untuk memperjelas tujuan dan penilaian fundamental ini, dan untuk menancapkannya dalam kehidupan emosional manusia. Dan jika ada yang bertanya, dari otoritas mena kita mesti mendapatkan tujuan fundamental ini –karena tujuan itu tidak dapat dinyatakan dan dijastifikasi hanya oleh nalar–maka jawabannya adalah: tujuan tesebutmajud dalam masyarakat yang seharusnya sebagai tradisi yang kuat, yang mempengaruhi perilaku, harapan-harapan, dan penilaian anggotanya; tujuan iru ada disana, yaitu, sesuatu yang hidup, tanpa merasa perlu menemukan jastifikasi bagi keberadaannya. Tujuan-tujuan itu meujud tanpa melalui pembuktian atau demonstrasi, tetapi melalui semacam pewahyuan, dengan perantaraan pribadi-pribadi tangguh. Tak perlu menjastifikasinya, tetapi yang penting adalah merasakan hakikatnya, secara sederhana dan jernih.
Kini, meskipun wilayah agama dan ilmu masing-masing sudah saling membatasi dengan jelas, bagaimanapun ada hubungan dan ketergantungan timbal balik yang amat kuat di antara keduanya. Meskipun agama adalah yang menentukan tujuan, tetapi dia telah belajar dalam arti yang paling luas, dari ilmu, tentang cara-cara apa yang akan menyumbang pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditetapkannya. Dan ilmuhanya dapat diciptakan oleh mereka yang telah teri-lhami oleh aspirasi terhadap kebenaran dan pemahaman. Sumber perasaan ini, tumbuh dari wilayah agama. Termasuk juga disisni adalah kepercayaan akan kemungkinan bahwa pengaturan yang absah bagi dunia kemaujudan ini bersifat rasional, yaitu dapat dipahami nalar. Saya tak dapat percaya ada ilmuwan yang tidak memiliki kepercayaan tersebut. Keadaan ini dapat diungkapkan dengan suatu citra ; ilmu tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa ilmu adalah buta.
Meskipun saya sudah menyatakan di atas bahwa sesungguhnya tak boleh ada pertentangan antara ilmu dan agama, saya mesti menekankan sekali lagi peryataan itu pada titik yang esensial, dengan mengacu kepada kandungan aktual agama-agama dalam sejarah. Pembahasan ini berhubungan dengan konsep Tuhan.
Perasaaan Religius-Kosmik.
Semua yang dilakukan dan dipikirkan manusia adalah berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang amat dirasakannyadan usaha menghindari perasaan tidak enak. Ini harus tetap diingat jika kita akan memahami gerakan-gerakan spritual dan perkembangannya.Perasaan dan keinginan adalah kekuatan pendorong segala upaya dan kreasi manusia, betapapun tersamarnya ia menampakkan diri kepadakita. Kini, perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhan apakah yang telah membawa manusia kepada pemikiran dan keyakinan religius dalam artinya yang paling luas? Pengamatan sepintas saja sudah cukup menunjukkan kepada kita bahwa pemikiran dan pengalaman religius dilahirkan oleh perasaan-perasaan yang amat beragam. Bagi orang primitif, rasa takutlah, diatas segalanya, yang menimbulkan gagasan religius-takut lapar, binatang buas, sakit, dan mati. Karena pada tingkat kemaujudan ini pemahaman akan berhubungan sebab-akibat biasanya tak cukup berkembang, maka akal manusia menciptakan wujud-wujud khayali yang sedikit banyak berfungsi sebagai bagian bagian dari hubungan sebab-akibat : peristiwa-peristiwa menakutkan terjadi sebagai akibat kehendak dan perbuatan wujud-wujud khayali tersebut. Dengan demikian, seseorang berusaha memenuhi keinginan wujud-wujud itu denagan menyajikan kuraban-kurban dan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang- menurut tradisi yang diteruskan secara turun temurun ke tiap generasi-bertujuan mendamaikan wujud-wujud itu atau membuat mereka bersikap baik kepada manusia. Di sini saya sedang berbicara tentang agama-takut. Agama ini adalah suatu tahap penting yang, meskipun tak diciptakan, diteguhkan oleh pembentukan suatu kelompok kependetaan istimewa yang meletakkan dirinya sebagai perantara antara manusia dengan wujud-wujud yang mereka takuti itu, dan kasta ini membangun kekuasaan diatas dasar ini. Seringkali seorang pemimpin, penguasa, atau suatu golongan privilese, yang mendapatkan posisisnya karena faktor-faktor lain, mengkombinasikannya dengan fungsi kependetaan agar otoritas sekularnya itu dapat lebih aman terjamin. Atau, para penguasa politik dan kelompok kependetaan bekerja sama demi kepengtingan masing-masing.
Desakan-desakan sosial adalah sumber lain dari terbentuknya suatu agama. Bapak, ibu, danpara pemimpin masyarakat makhluk-makhluk yang fana dan dapat berbuat salah. Kebutuhan mereka akan perlindungan, kasih sayang dan dukungan mendorong manusia untuk membuat konsepsi sosial, atau moral tentang Tuhan. Inilah Tuhan sang Pemelihara yang melindungi, memberi kepastian, memberi ganjaran, dan menghukum ; Tuhan yang- sesuai denag batas pandangan orang yang percaya- mencintai dan memuliakan kehidupan suatu suku atau kehidupan umat manusia, atau bahkan kehidupan itu sendiri ; Tuhan yang menjadi penghibur dalam penderitaan dan dalam keinginan yang tak terpuasi ; dialah yang memelihara jiwa-jiwa orang yang telah mati. Inilah konsepsi sosial atau moral tentang Tuhan. Kitab suci agama Yahudi dengan menarik meggambarkan perkembangan dari agama-takut ke agama-moral ini – sebuah perkembangan yang berlanjut dalam Perjanjian Baru. Agama bangsa-bangsa beradab, khususnya bangsa-bangsa Timur, pada pokoknya adalah agama moral. Perkembangan dari agama-takut ke agama-moral adalah satu langkah besar dalam kehidupan umat manusia. Namun, kita tetap harus mewaspadai prasangka bahwa agama primitif didasarkan sepenuhnya pada rasa takut, dan agama bangsa beradab sepenuhnya pada moralitas. Yang benar adalah bahwa semua agama merupakan campuran yang beragam dari kedua tipe tersebut, dengan satu perbedaan: pada tingkat kehidupan sosial yang lebih tinggi, agama moralitas lebih menonjol.
Satu hal yang ada pada semua tipe ini adalah watak antropomorfis dalam konsepsi tentang Tuhan. Pada umumnya, hanyalah orang-orang yang mempunyai bakat istimewa dan yang cerdas, yang merupakan perkecualian, yang dapat naik sampai ke suatu tingkat jauh di atas tingkat ini. Tetapi, ada tingkat ketiga dari pengalaman religius yang ada pada semua tipe tersebut, meskipun jarang ditemukan dalam bentuknya yang murni: saya menyebutnya dengan "perasaan religius-kosmik". Sangatlah sulit menjelaskan perasaan ini kepada orang yang sama sekali tak memilikinya, khususnya karena tidak ada konsepsi antropomorfis tentang Tuhan yang berhubungan dengan perasaan itu.
Orang itu merasakan betapa sia-sianya keinginan dan tujuan manusia, dan merasakan kelembutan dan ketertiban yang menakjubkan yang mengungkapkan dirinya dalam alam dan dunia pemikiran. Kemaujudan Individual hanya terkesan sebagai semacam penjara dan ia mengalami alam semesta sebagai suatu keseluruhan tunggal yang bermakna. Awal perasaan religius-kosmik sudah muncul pada tingkat awal perkembangan, sebagai contoh, dalam banyak Kitab Zabur Nabi Dawud dan pada beberapa Nabi. Agama Budha seperti yang kita pelajari, terutama dari tulisan-tulisan Schopenhauer, berisi unsur yang lebih kuat dari perasaan tersebut.
Para jenius religius dari segala zaman dibedakan oleh perasaan religius semacam ini, yang tidak mengenal dogma dan konsepsi Tuhan dalam bentukan citra manusia; maka tak akan ada gereja yang ajaran-ajaran utamanya didasarkan pada hal tersebut. Karenanya, kita menemukan orang-orang yang penuh dengan perasaan religius tertinggi ini hanya diantara para heretik (yang dianggap melakukan bid’ah-bid’ah) di setiap zaman; dan dalam banyak hal mereka dipandang oleh orang-orang sezamannya sebagai orang ateis, kadang-kadang juga sebagai santo (wali). Dari sudut pandang ini, orang-orang seperti Demokritos, Francis Assisi, dan Spinoza, sangat mirip satu dengan lainnya.
Bagaimana mungkin perasaan religius-kosmik dikomunikasikan kepada orang lain, kalau perasaan itu memunculkan tak satupun gagasan yang mutlak tentang Tuhan, dan memunculkan tak satu pun teologi? Dalam pandangan saya, inilah fungsi terpenting seni dan ilmu, yaitu, untuk membangkitkan perasaan ini dan memeliharanya agar tetap hidup pada orang-orang yang dapat menerimanya.
Dengan demikian, kini kita sampai kepada suatu konsepsi yang sangat berbeda dari biasanya tentang hubungan antara ilmu dan agama. Jika seseorang melihat masalah ini secara historis, ia akan cenderung untuk melihat ilmu dan agama sebagai dua hal yang saling berlawanan yang tak dapat didamaikan – dan ada alasan yang jelas untuk ini.
Manusia Religius
Selama periode awal evolusi spritual umat manusia, khayalan manusia telah menciptakan Tuhan-Tuhan dalam citra manusia sendiri, yang – dengan berlangsungnya kehendak mereka – ingin menentukan, atau paling tidak mempengaruhi sampai tingkat tertentu, dunia fenomenal. Manusia berusaha mengubah ketentuan Tuhan-Tuhan ini untuk kebaikan mereka sendiri dengan cara magis dan penyembahan. Gagasan Tuhan pada saat ini adalah penghalusan dari konsep lama tentang Tuhan-Tuhan. Sifat antropomorfisnya tampak, misalnya, pada kenyataan bahwa manusia memuja Wujud Ilahiah dalam sembahyang-sembahyangnya, dan memohon dipenuhinya keinginan-keinginan mereka.
Sudah pasti, tak seorang pun akan menolak gagasan adanya suatu Tuhan personal yang mahakuasa, adil, dan maha pemurah dapat menjadi pelipur lara, pemberi bantuan dan pembimbing manusia; juga, disebabkan sederhananya gagasan itu, ia dapat dipahami oleh orang yang pikirannya paling lemah sekalipun. Tapi, di pihak lain, ada kelemahan yang amat penting dalam gagasan antropomorfis ini sendiri, yang terasa amat menyakitkan sejak permulaan sejarah. Yaitu bahwa jika Wujud ini mahakuasa, maka setiap peristiwa, termasuk setiap perbuatan manusia, setiap pikiran manusia, dan setiap perasaan dan aspirasi manusia adalah juga karya-Nya; bagaimana mungkin kita berpendapat bahwa manusia bertanggung jawab atas semua perbuatannya dan pemikirannya di depan Wujud mahakuasa seperti itu? Dalam memberikan hukuman dan ganjaran, Ia akan melewati penilaian terhadap Diri-Nya sendiri. Bagamana ini dapat dikombinasikan dengan kebaikan dan kemurahan yang menjadi sifat-Nya? Sumber utama dari pertentangan masa ini antara ilmu dan agama terletak pada konsep Tuhan yang personal ini.
Orang yang yakin sepenuhnya pada berlakunya hukum sebab akibat secara unuversal, tak akan bisa menganut suatu gagasan tentang satu wujud yang ikut campur dalam terjadinya peristiwa-peristiwa tentunya, dengan syarat ia memperlakukan hipotesis sebab-akibat itu secara serius. Ia tidak butuh lagi agama-takut, begitu juga agama-moral. Suatu Tuhan yang memberi ganjaran dan menghukum, tidak dapat lagi dipahaminya, karena alasan sederhana bahwa segala perbuatan manusia sudah ditentukan harus dilakukan, sehingga di mata Tuhan ia tak dapat bertanggung jawab – persis sama sebagaimana halnya suatu benda mati tak bertanggung jawab atas gerakan-gerakan yang dijalaninya. Demikianlah, maka ilmu telah dituduh menghancurkan moralitas, tapi tuduhan itu tidaklah adil. Perilaku etis manusia harus didasarkan secara efektif pada simpati, pendidikan, hubungan sosial, dan kebutuhan-kebutuhan; tak diperlukan dasar agama. Manusia pasti akan menjadi miskin kalau ia harus dikekang oleh perasaan takut akan hukuman dan harapan akan ganjaran setelah mati.
Maka, mudah Kita pahami mengapa gereja selalu memerangi ilmu dan mendukung para pendukungnya, di pihak lain perasaan religius kosmik merupakan motif paling kuat dan mulia bagi penelitian keilmuan. Hanya mereka yang mengerti usaha yang luar biasa dan pengabdian yang telah mewujudkan semua karya pionir dalam ilmu teoritis, yang dapat menangkap kekuatan emosi yang karenanya karya-karya tersebut - yang begitu jauh dari kenyataan hidup sehari-hari dapat tercipta. Betapa dalamnya keyakinan tentang rasionalitas alam semesta, dan betapa kuatnya dorongan untuk memahami yang pasti dimiliki Kopler dan Newton sehingga mereka dapat bertahan dalam kerja sunyinya yan bertahun tahun untuk menguraukan prinsip-prinsip mekanik alam semesta. Mereka yang pengalamannya dalam penelitian keilmuan didapat dari terutama hasil-hasil praktisnya dengan mudah mengembangkan gagasan yang sama sekali salah tentang mentalitas manusia yang – dalam lingkungan alam skeptis – telah menunjukkan dalam sesamanya suatu semangat yang terserak keseluruh dunia dan sepanjang masa. Hanya sesoran yang mengabdikan hidupnya yang gambkang dengan apa yang telah mengilhami orang-orang itu dan yang memberi mereka kekuatan untuk tetap setia kepada tujuan-tujuan mereka, meski mengalami kegagalan-kagagalan yang tak terhitung adalah perasaan religius-kosmik yang memberi seseorang kekuatan semacam itu. Seorang dari zaman kita telah mengatakan bahwa yang materialistik ini hanyalah pekerja ilmu yang serius yang benar –behnar merupakan orang religius.  sekian materi tentan Agama dan Ilmu

Petikan Surat Syeikh Abdul Qadir al-Jilani


Sahabat-sahabatku yang dikasihi. Hati kamu adalah seumpama cermin yang berkilat. Kamu mesti membersihkannya dari pada debu dan kekotoran yang menutupinya. Cermin hati kamu itu telah ditakdirkan untuk memancarkan cahaya rahasia-rahasia Ilahi. Bila cahaya dari “Allah adalah cahaya bagi semua langit dan bumi…” mula menyinari ruang hati kamu, lampu hati kamu akan menyala. Lampu hati itu “berada di dalam kaca, kaca itu sifatnya seumpama bintang berkilau-kilauan terang benderang…” Kemudian kepada hati itu anak panah penemuan-penemuan suci akan hinggap. Anak panah kilat akan mengeluarkan dari pada awan petir maksud “bukan dari timur atau barat, dinyalakan dari pohon zaitun yang diberkati…” dan memancarkan cahaya ke atas pokok penemuan, sangat tulen, sangat lutsinar sehingga ia “memancarkan cahaya walaupun tidak disentuh oleh api”. Kemudian lampu makrifat (hikmah kebijaksanaan) akan menyala sendiri. Mana mungkin ia tidak menyala sedangkan cahaya rahsia llahi menyinarinya?
Sekiranya cahaya rahsia Ilahi bersinar ke atasnya, langit malam kepada rahasia-rahasia akan menjadi terang oleh ribuan bintang-bintang “…dan berpandukan bintang-bintang (kamu) temui jalan (kamu)…”. Bukanlah bintang yang memandu kita tetapi cahaya Ilahi. Lantaran Allah menghiaskan langit rendah dengan keindahan bintang-bintang”. Sekiranya lampu rahasia-rahasia Ilahi dinyalakan di dalam diri batin kamu yang lain akan datang secara sekaligus atau beransur-ansur. Sebahagiannya kamu telah ketahui sebahagian yang lain akan kami beritahu di sini. Baca, dengar, coba fahamkan. Langit ketidaksedaran (kelalaian) yang gelap akan dinyalakan oleh kehadiran Ilahi dan kedamaian serta keindahan bulan purnama yang akan naik dari ufuk langit memancarkan “cahaya di atas cahaya” berterusan meninggi di langit, melepasi peringkat yang ditentukan sebagaimana yang Allah telah tentukan bagi kerajaan-Nya, sehingga ia bersinar penuh kemuliaan di tengah-tengah langit, menghambat kegelapan kelalaian. “(Aku bersumpah) demi malam apabila ia senyap sepi…dengan cuaca pagi yang cemerlang…” malam ketidaksadaran kamu
akan melihat terangnya hari siang. Kemudian kamu akan menghirup air wangi kenangan dan “bertaubat di awal pagi” terhadap ketidaksedaran (kelalaian) dan menyesali umur kamu yang dihabiskan di dalam lena. Kamu akan mendengar nyanyian burung bulbul di pagi hari dan kamu akan mendengarnya berkata: Mereka tidur sedikit sahaja di malam hari dan pada awal pagi mereka memohon keampunan Allah dan Allah bimbingkan kepada cahaya-Nya sesiapa yang Dia kehendaki.
Kemudian kamu akan melihat di ufuk langit peraturan Ilahi akan matahari ilmu batin mula terbit. Ia adalah matahari kamu sendiri, Lantaran kamu adalah “yang Allah beri petunjuk” dan kamu “berada pada jalan yang benar” dan bukan “mereka yang Dia tinggalkan di dalam kesesatan”. Dan kamu akan memahami rahasia: Tidak diizinkan matahari mengejar bulan dan tidak pula malam mendahului siang. Tiap sesuatu berjalan pada landasan (masing-masing). Akhirnya ikatan akan terurai selaras dengan “perumpamaan yang Allah adakan untuk insan dan Allah mengetahui tiap sesuatu”, dan tabir-tabir akan terangkat dan kulit akan pecah, mendedahkan yang seni di bawah pada yang kasar. Kebenaran akan membuka tutupan mukanya.
Semua ini akan bermula bila cermin hati kamu dipersucikan. Cahaya rahasia-rahasia Ilahi akan memancar Padanya jika kamu berhajat dan bermohon kepada-Nya, daripada-Nya, dengan-Nya. 

10 Nasehat Ibrahim bin Adham


Suatu ketika Ibrahim bin Adham, seorang alim yang terkenal zuhud dan wara’nya, melewati pasar yang ramai. Selang beberapa saat beliau pun dikerumuni banyak orang yang ingin minta nasehat. Salah seorang di antara mereka bertanya, “Wahai Guru! Allah telah berjanji dalam kitab-Nya bahwa Dia akan mengabulkan doa hamba-Nya. Kami telah berdoa setiap hari, siang dan malam, tapi mengapa sampai saat ini doa kami tidak dikabulkan?”
Ibrahim bin Adham diam sejenak lalu berkata, “Saudara sekalian. Ada sepuluh hal yang menyebabkan doa kalian tidak dijawab oleh Allah.

Pertama, kalian mengenal Allah, namun tidak menunaikan hak-hak-Nya.
Kedua, kalian membaca Al-Quran, tapi kalian tidak mau mengamalkan isinya.
Ketiga, kalian mengakui bahwa iblis adalah musuh yang sangat nyata, namun dengan suka hati kalian mengikuti jejak dan perintahnya.
Keempat, kalian mengaku mencintai Rasulullah, tetapi kalian suka meninggalkan ajaran dan sunnahnya.
Kelima, kalian sangat menginginkan surga, tapi kalian tak pernah melakukan amalan ahli surga.
Keenam, kalian takut dimasukkan ke dalam neraka, namun kalian dengan senangnya sibuk dengan perbuatan ahli neraka.
Ketujuh, kalian mengaku bahwa kematian pasti datang, namun tidak pernah mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.
Kedelapan, kalian sibuk mencari aib orang lain dan melupakan cacat dan kekurangan kalian sendiri.
Kesembilan, kalian setiap hari memakan rezeki Allah, tapi kalian lupa mensyukuri nikmat-Nya.
Kesepuluh, kalian sering mengantar jenazah ke kubur, tapi tidak pernah menyadari bahwa kalian akan mengalami hal yang serupa.”

Setelah mendengar nasehat itu, orang-orang itu menangis.
Dalam kesempatan lain Ibrahim kelihatan murung lalu menangis, padahal tidak terjadi apa-apa. Seseorang bertanya kepadanya. Ibrahim menjawab, “Saya melihat kubur yang akan saya tempati kelak sangat mengerikan, sedangkan saya belum mendapatkan penangkalnya. Saya melihat perjalanan di akhirat yang begitu jauh, sementara saya belum punya bekal apa-apa. Serta saya melihat Allah mengadili semua makhluk di Padang Mahsyar, sementara saya belum mempunyai alasan yang kuat untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan saya selama hidup di dunia.”

Sunday, October 2, 2011

MEMBANGUN CITRA DIRI LEWAT MENULIS

.... hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk keperluan hari esok .... (Al-Hasyr: 18)
            Ketika saya membaca buku Marketing Yourself: Kiat Sukses Meniti Karier dan Bisnis karya Hermawan Kartajaya, saya merasakan sekali gejolak-hebat terjadi di dalam diri saya yang terdalam (inner-self). Saya merasakan sekali bahwa selama ini saya seperti kurang memperhatikan diri saya sendiri. Boro-boro mempedulikan, memperhatikan diri saja rasa-rasanya susah sekali.
Selama hampir setengah abad hidup saya, sudah banyak ilmu yang saya pelajari. Sejak masuk TK, saya sudah diajari macam-macam--ilmu menyanyi, berbaris, hormat kepada ibu guru, dan banyak lagi. Masuk ke SD, para guru saya, selama enam tahun, juga telah memberikan banyak sekali ilmu. Begitu juga ketika di SMP dan SMA. Apalagi setelah saya menjadi mahasiswa. Rasa-rasanya, setiap hari saya belajar sesuatu yang baru.
Lantas, apa yang saya lakukan dengan ilmu-ilmu yang saya miliki? Saya memang tak ingin sekadar mengatakan bahwa ilmu-ilmu yang saya dapat itu sudah memberikan manfaat banyak kepada keberlangsungan hidup saya. Saya menjadi seperti ini pada usia hampir setengah abad ini, ya tentu dikarenakan ilmu yang saya peroleh selama saya bersekolah. Setelah membaca Marketing Yourself--meskipun, sekali lagi, ilmu-ilmu yang saya dapat itu telah memberikan manfaat kepada saya--saya ingin tunjukkan kepada para pembaca tulisan saya ini bahwa ilmu-ilmu yang saya dapat saya rasakan juga berperan mengasingkan diri saya terhadap diri saya yang lebih dalam.
Agak susah ya kalimat terakhir itu Anda pahami? Begini. Meskipun ilmu-ilmu yang saya miliki sekarang telah memberikan manfaat, namun ilmu-ilmu itu sekaligus membuat diri saya menjauh dari diri saya sendiri. Lewat ilmu-ilmu yang saya dapat, saya seperti didorong untuk bisa lebih memahami keadaan yang berada di luar diri saya. Ringkasnya, ilmu-ilmu itu membuat saya lebih tahu banyak tentang hal-hal di luar diri saya ketimbang memahami apa yang ada di dalam diri saya sendiri. Bagaimana pembaca, kira-kira sudah dapat Anda pahamikah hal-hal yang ingin saya sampaikan ini?
Semakin banyak ilmu yang saya dapat dari sekolah, semakin terasing diri saya dengan diri saya sendiri. Saya memang lantas dapat menulis tentang kota Frankfurt dan London ketika saya berkunjung ke sana. Saya juga dapat menuliskan keadaan kota Makkah dan Madinah ketika saya berhaji ke Tanah Suci. Saya juga dapat mengamati rekan-rekan saya ketika bekerja bersama saya. Saya bahkan kadang dapat melemparkan kritik kepada hal-hal yang terjadi di luar diri saya. Tentu, semua itu dapat saya lakukan karena saya punya ilmu.
Namun, dapatkah saya merumuskan diri saya secara baik dan benar? Apakah saya mengetahui apa yang bergejolak di dalam diri saya? Sudah sampai di mana perjalanan diri saya selama ini? Apakah yang saya cari sudah saya dapatkan? Sebenarnya tujuan hidup saya itu apa ya? Apakah saya sudah pernah merasakan cinta yang sesungguhnya? Apakah saya perlu benar-benar merasakan cinta? Sudahkah saya bahagia? Dalam konteks apa saya berada dalam keadaan bahagia? Apa yang sudah saya lakukan sehingga yang saya lakukan itu dapat bermanfaat bagi orang lain? Apakah saya sudah memperbaiki kelemahan-kelemahan saya? Apakah saya berani mengkritik diri saya secara tajam dan blak-blakan?
Mungkin apabila saya terus menderetkan pertanyaan-pertanyaan tentang diri saya, sebagaimana yang saya lakukan di atas, kertas yang saya gunakan untuk menulis ini akan sangat panjang jadinya. Nah, pertanyaan saya yang paling penting untuk saya tujukan kepada diri saya adalah "Apakah ilmu yang saya peroleh selama ini sudah membantu saya untuk memahami diri saya?" Saya ingin secara tegas di sini menyatakan bahwa saya belum memperoleh ilmu untuk memahami diri saya. Jadi, dengan pernyataan ini, saya kemudian dapat secara tegas menyatakan hal penting berikutnya bahwa ilmu yang selama ini saya miliki cenderung untuk tidak membuat saya memahami diri saya sendiri.
Buku Marketing Yourself sungguh mendorong dan mendukung saya untuk mencari ilmu yang dapat saya gunakan untuk memahami diri saya. Mengapa saya ingin mendapatkan ilmu yang dapat membantu saya untuk memahami diri saya? Sebab jika saya tidak bersegera mendapatkan ilmu tersebut, ada kemungkinan ilmu saya yang lain (di luar ilmu untuk memahami diri) dapat saja bertambah, namun saya semakin dijauhkan dari diri saya oleh ilmu yang terus bertambah itu. Ini akan berakibat fatal. Saya bisa berubah menjadi orang yang tidak rendah hati. Saya bisa menjadi orang yang tidak jujur. Saya juga, ada kemungkinan besar, lantas bisa menjadi orang yang kadang bersikap arogan karena ilmu saya yang banyak itu (minus ilmu untuk memahami diri).
Setidaknya, buku Marketing Yourself ini mengingatkan saya bahwa saya perlu merumuskan diri saya secara segera. Buku ini mengenalkan konsep membangun citra diri dengan nama "segitiga PDB". PDB adalah singkatan dari "positioning", "differentiation", dan "brand". Sebagaimana yang saya pahami atas konsep "segitiga PDB", konsep tersebut menganjurkan agar seseorang itu dapat memposisikan dirinya di tengah masyarakatnya. Memposisikan diri berarti mengenali diri dan kemudian meletakkan diri dalam konteks yang diinginkannya.
Setelah berhasil memposisikan diri, seseorang perlu terus mempertajam detail tentang dirinya. Proses memposisikan (atau dalam bahasa saya adalah merumuskan dan mengenali) diri sendiri itu, perlu berlangsung secara kontinu dan konsisten--kalau perlu setiap hari. Apabila proses itu dapat dilangsungkan secara kontinu dan konsisten, nanti orang itu akan masuk ke wilayah berikutnya yang bernama diferensiasi. Artinya, tiba-tiba saja detail diri atau keunikan diri itu akan mencuat hebat.
Detail atau keunikan diri yang sudah diperoleh seseorang pun perlu dijaga. Sebab, detail diri itu bisa hilang ditelan perkembangan zaman. Jadi, detail atau keunikan diri itu perlu diasah terus-menerus sehingga semakin mengkilap dan terang benderang. Inilah proses yang tidak mudah karena seseorang yang sudah mencuat keunikan dirinya cenderung untuk merasa "berbeda" dengan orang lain (dalam bahasa kasarnya, ini bisa disebut dengan "sombong"). Kesombongan akan merusak baik "positioning" maupun, yang akan dirusak lebih parah, "differentiation".
Apabila seseorang dapat secara hebat dan konsisten menjaga "positioning" dan "differentiation"-nya, maka--menurut konsep "segitiga PDB"--secara otomatis orang tersebut akan memiliki semacam merek atau citra atau "brand". Sebagaimana produk benda mati seperti mobil, "brand" tentu akan mampu membuat perbedaan. Bisa jadi sebuah produk yang fungsinya sama (mobil adalah alat transportasi), namun jika yang satu lebih kuat "brand"-nya, maka nilai jualnya tentu akan lebih tinggi. Begitulah seorang manusia yang sudah sampai ke taraf memiliki "brand".
Apakah konsep "segitiga PDB" itu dapat dikatakan sebagai ilmu yang dapat membuat seseorang dapat memahami diri? Apakah ini merupakan ilmu yang dapat membuat seseorang menjadi tidak terasing dengan dirinya apabila dapat menguasai dan--ini yang penting--menerapkan konsep "segitiga PDB"? Saya tidak tahu. Ada kemungkinan ya, dan ada kemungkinan tidak. Lho kok akhirnya, Pak Hernowo tidak dapat memutuskan soal ini secara tegas?
Saya berpendapat, konsep "segitiga PDB" ini akan dapat membantu seseorang untuk mengenali dirinya. Hanya saya akan menambahkan di sini bahwa konsep "segitiga PDB" ini baru akan efektif apabila orang yang ingin memiliki "brand" itu dapat merumuskan dirinya secara tertulis. Artinya, hanya lewat kegiatan "merumuskan" atau menulis (dalam bahasa saya, ini disebut "mengikat") ada kemungkinan besar seseorang dapat dengan cepat dan kukuh memposisikan dirinya, lantas mencari keunikan dirinya, dan akhirnya membangun citra diri yang baik.
Saya khawatir jika penerapan konsep "segitiga PDB" itu dituliskan oleh orang lain, ada kemungkinan orang yang akhirnya memiliki "brand" itu tidak mampu untuk mengendalikan dampak negatifnya (ingat soal "sombong" yang saya singgung di atas). Apabila seseorang dapat merumuskan dirinya dan memiliki catatan yang akurat tentang dirinya dalam bentuk tertulis, bukan saja dia dapat mengatasi dampak negatif tersebut, melainkan juga dapat terus mengembangkan dirinya secara terprogram dan terarah.
Marilah kita membangun citra diri kita--dalam konteks yang terus membaik hari demi hari--lewat menuliskan diri kita dalam bentuk catatan harian

Monday, August 1, 2011

nasihaa perjuangan cinta

1. Saya mencintai seorang wanita tapi dia tidak pernah mau mencintaiku?
Anda memang gagal mendapatkan hati wanita itu. Tapi tetaplah mencintai karena sudah tugas anda untuk selalu mencintainya tiap hari. Sekali anda tidak mencintainya lagi berarti anda sudah 100% gagal mendapatkannya.

2. Saya selalu dipermainkan oleh wanita baik fisik maupun mental ?
Nasihat cinta terbaik untuk kasus ini adalah Bohongilah diri anda bahwa anda sedang tidak dipermainkan.

3. Saya selalu terus menerus dibohongi oleh wanita?
Maafkanlah, karena sudah tugas setiap pria yang ada di dunia ini untuk memaafkan setiap kebohongan wanita

4. Hati wanita yang saya cintai sudah menjadi milik orang lain?
Memang susah! Tersenyumlah, Karena sebentar lagi perempuan impian anda akan bahagia bersama orang lain.

5. Semua cewek di sekeliling saya selalu mengejek dan membuat lelucon tentang tampang saya?
Ok saya menarik kesimpulan bahwa tampang anda masih dibawah rata-rata. Tetapi seharusnya anda berterima kasih kepada Tuhan karena telah diberi tampang yang membuat wanita tertawa

6. Kekayaan dan harta benda saya habis digrogoti cewek matre?
Itulah cara mencintai yang tepat yaitu memberi “zakat” kepada wanita. Bekerja keraslah lagi supaya anda dapat memberi “zakat” kepada cewek-cewek matre lainnya. Masih banyak kok di negara ini!

7. kemarin saya diputusin pacar saya, dan saya menagis seharian bagaimana pendapat anda?
Menangislah karena tidak bisa membahagiakan pacar anda. Kemudian tertawalah karena kekasih anda sudah lepas dari laki-laki “Brengsek“.

9. Saya sudah tidak mencintai wanita yang menjadi kekasih saya?
Tunggu apa lagi putuskan saja pacarmu, lalu bilang I Love you padaku.

10. Saya ingin memberikan hadiah untuk kekasih saya, Hadiah apa ya yang sebaiknya saya beri?
Nasihat cinta saya adalah: Berikanlah nyawa anda, titik!
Powered By Blogger

Total Pageviews

Followers